Mengenal Kentang Jembut dari Dekat
Secara botani, kentang jembut merujuk pada Coleus tuberosus, sejenis umbi-umbian yang juga dikenal dengan nama kentang hitam.
Umbi ini tergolong langka dan tidak sepopuler kentang putih yang biasa dikonsumsi masyarakat luas.
Menurut penelitian dalam jurnal Vegetalika UGM tahun 2020, tanaman ini berasal dari Afrika Barat dan kemudian menyebar ke Asia, termasuk ke Nusantara.
Bentuknya kecil, berkulit kasar, dengan serabut halus yang menjadi alasan munculnya sebutan jembut.
Dagingnya berwarna hitam pekat, berbeda dari kentang pada umumnya yang berwarna putih atau kuning.
Sayangnya, kentang jembut belum dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pangan utama.
Banyak masyarakat menganggapnya sekadar umbi liar atau pangan alternatif yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Padahal, jika diolah dengan tepat, kentang ini menyimpan potensi besar sebagai sumber karbohidrat sekaligus bahan makanan eksotis.
Tidak banyak catatan resmi mengenai resep olahan kentang jembut. Namun beberapa sumber menunjukkan bahwa masyarakat di daerah tertentu, termasuk Banyuwangi dan sebagian wilayah Jawa Timur, sudah lama mengenalnya.
Warganet yang pernah mencicipi menyebut rasa kentang ini unik, agak gurih dengan tekstur padat.
Profesor Sri Raharjo, pakar gizi dari UGM, menyarankan kentang jembut diolah dengan cara direbus atau dikukus agar nutrisinya tetap terjaga.
Kulit kentang sebaiknya tidak dikupas karena mengandung serat serta pigmen antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan.
Sebaliknya, proses penggorengan dinilai kurang ideal karena suhu tinggi dapat merusak kandungan gizi.
Apalagi kentang jembut termasuk umbi yang lebih rentan kehilangan nutrisi ketika dipanaskan berlebihan.
Dalam sebuah buku resep sehat karya Wied Harry Apriadji, kentang hitam disarankan sebagai bahan substitusi telur puyuh untuk masakan pedas manis berbumbu cabai dan daun jeruk.
Olahan sederhana ini memperlihatkan fleksibilitas kentang jembut yang dapat menyesuaikan dengan berbagai jenis masakan, baik tradisional maupun modern.
Kandungan Gizi
Banyak orang beranggapan bahwa kentang identik dengan sumber karbohidrat tinggi yang bisa memicu peningkatan gula darah. Namun, kentang jembut berbeda.
Umbi ini memiliki kandungan amilosa yang lebih tinggi dibanding amilopektin.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.