Perbedaan ini membuat indeks glikemiknya relatif rendah. Dengan kata lain, kentang jembut tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis setelah dikonsumsi.
Selain itu, kentang jembut juga kaya akan serat yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan.
Fermentasi serat oleh bakteri usus dapat menghasilkan asam lemak rantai pendek seperti butirat dan propionat.
Senyawa ini dikenal mampu melindungi usus besar dari risiko kanker kolon.
Profesor Sri Raharjo menambahkan, konsumsi kentang jembut secara rutin dapat membantu kesehatan saluran cerna, yang pada gilirannya mendukung penyerapan zat besi dan protein lebih baik.
Efek tidak langsung inilah yang membuat kentang jembut dianggap bermanfaat bagi penderita anemia.
Dari Lelucon Jadi Kebudayaan
Di balik kehebohan istilah kentang jembut, terdapat diskusi serius mengenai bagaimana bahasa hidup dan berkembang.
KBBI bukan sekadar kamus, melainkan refleksi budaya dan realitas sosial.
Masuknya istilah ini memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia mampu merangkul ragam ekspresi lokal, bahkan yang terkesan tidak sopan, selama memiliki akar penggunaan nyata.
Bagi sebagian orang, istilah ini lucu. Namun bagi masyarakat yang memang sudah terbiasa menyebut umbi itu dengan nama kentang jembut, istilah ini adalah bagian dari tradisi lisan mereka.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa bahasa tidak selalu tunduk pada norma kesopanan semata.
Bahasa juga mencatat kehidupan sehari-hari, termasuk yang dianggap remeh, nyeleneh, atau tabu.
Potensi Ekonomi
Jika dikelola dengan serius, kentang jembut berpeluang menjadi produk khas daerah yang memiliki nilai jual tinggi.
Seperti halnya porang atau gadung yang dulu dianggap tanaman liar, kini justru diekspor ke berbagai negara, kentang jembut pun bisa menempuh jalan serupa.
Kandungan gizi, keunikan warna hitam pada daging umbi, serta nama yang viral dapat menjadi modal branding yang kuat.
Bayangkan bila kentang jembut diolah menjadi keripik, tepung, atau bahkan makanan instan.
Nama uniknya bisa menjadi daya tarik pasar, terutama di era pemasaran digital yang gemar menonjolkan hal-hal eksentrik.
Meski punya potensi, tantangan besar tetap ada.
Pertama, stigma masyarakat terhadap nama kentang jembut.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.