Sebagian mungkin enggan membeli atau menyajikan di meja makan hanya karena istilahnya terdengar vulgar.
Kedua, ketersediaannya yang masih terbatas. Tanaman ini belum banyak dibudidayakan secara masif.
Perlu riset agronomi untuk memastikan kentang jembut dapat ditanam dalam skala besar dengan hasil stabil.
Ketiga, pemahaman konsumen. Tanpa edukasi yang benar mengenai manfaat dan cara pengolahan, kentang jembut bisa tetap terjebak sebagai bahan pangan alternatif yang jarang dipakai.
Dari ladang hingga meja makan, dari lelucon hingga penelitian ilmiah, kentang jembut menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap remeh pun bisa menjadi topik serius bila dilihat dari berbagai sudut. (A46)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.