“Program MBG dinilai memberikan manfaat nyata bagi keluarga dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Data penelitian menunjukkan, semakin rendah kelas sosial siswa, semakin tinggi tingkat penerimaan mereka terhadap program ini,” kata Hari dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurut Hari, sebagian besar orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut karena dinilai mampu meringankan beban ekonomi keluarga, menghemat uang jajan anak, membantu orang tua yang sibuk menyiapkan makanan, serta mencegah anak kelaparan di sekolah.
Meski mendapat respons positif, penelitian tersebut juga menemukan berbagai persoalan dalam implementasi program MBG, terutama terkait desain program, tata kelola distribusi makanan, dan penentuan penerima manfaat.
Hari menjelaskan, salah satu persoalan utama adalah sistem yang terlalu terpusat, mulai dari penentuan standar operasional prosedur (SOP), petunjuk teknis, hingga siklus menu nasional yang diterapkan secara seragam di seluruh daerah.
“Seluruh aturan operasional dapur diatur melalui petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari jam operasional memasak, pelaporan harian secara daring, hingga standar Angka Kecukupan Gizi (AKG),” ujarnya.
Akibat sistem yang terpusat tersebut, pengelola dapur di daerah disebut sering kesulitan menyesuaikan menu dengan selera dan kebiasaan makan siswa setempat.
Selain itu, sebanyak 73,3 persen sekolah yang disurvei mengaku pernah menghadapi masalah distribusi makanan dari dapur MBG, terutama keterlambatan pengiriman yang berdampak pada kualitas makanan.
Penelitian juga menemukan sekitar 59 persen siswa menyatakan makanan yang diterima “kadang hangat, kadang dingin”.
Bahkan 19 persen siswa mengaku pernah mengalami keluhan seperti sakit perut atau mual setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Riset UI juga mencatat tingkat kebosanan siswa terhadap menu makanan yang disajikan.
Sebanyak 53 persen siswa mengaku “kadang-kadang bosan” dengan menu MBG, sementara 15 persen lainnya mengaku “sering bosan”.
Jenis makanan yang paling sering tersisa adalah sayur dengan persentase mencapai 77,9 persen.
Sementara alasan utama siswa tidak menghabiskan makanan adalah rasa yang dianggap kurang enak atau tidak sesuai selera, mencapai 55,9 persen.
Menurut Hari, kondisi tersebut menunjukkan upaya pemenuhan gizi seimbang belum optimal karena makanan bergizi yang diberikan tidak selalu dikonsumsi secara penuh oleh siswa.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.