Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa satu-satunya kriteria keunggulan di mata Tuhan adalah ketakwaan, bukan jenis kelamin, status sosial, atau suku bangsa. Begitu juga dengan Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 195 yang artinya:
"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain."
Ayat ini menekankan, baik laki-laki maupun perempuan akan menerima pahala yang sama atas amal perbuatan mereka.
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas bahwa Islam menjunjung tinggi nilai kesetaraan kemanusiaan (human dignity) dan kesetaraan dalam pertanggungjawaban individu (amal dan ibadah) di akhirat.
Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan sebagai hamba Allah ('abid) dan sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al-'ard), yang memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi dan beribadah kepada-Nya.
Dalam kapasitas ini, tidak ada perbedaan peran yang signifikan; keduanya memiliki potensi dan kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah.
Distingsi peran dimaknai sebagai bentuk memahami konsep qiwamah dan kodrat biologis. Anggapan diskriminasi seringkali muncul ketika membahas ayat-ayat yang menyinggung perbedaan peran secara spesifik, seperti konsep qiwamah.
Masalah Qiwamah di bahas secara jelas di dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 34 :
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka,"
Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya. Maka nasehati-lah mereka dan pisahkan-lah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati-mu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. Ayat ini sering diterjemahkan secara kaku sebagai superioritas laki-laki atas perempuan.
Namun penafsiran yang lebih adil dan kontekstual memaknai qiwamah sebagai tanggung jawab laki-laki sebagai pelindung dan penanggung-jawab nafkah dalam lingkup keluarga, bukan sebagai pemimpin yang bersifat otoriter.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.