Pematangsiantar, Sinata.id – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang warga yang terjadi di kawasan Taman Bunga (Lapangan Merdeka), Kota Pematangsiantar, pada Kamis (28/5/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB hingga korban meninggal dunia kembali mencuat ke publik dan menjadi sorotan.
Mirisnya, dugaan pengeroyokan tersebut terjadi di tengah kondisi lalu lintas yang masih ramai. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar, pemukulan secara bersama-sama itu diduga dilakukan oleh enam orang pelaku yang disebut bernaung di bawah sebuah organisasi kepemudaan (OKP).
Redaksi Sinata.id menerima pesan WhatsApp pada Selasa (10/6/2026) yang memaparkan versi kronologi kejadian menurut pengirim pesan.
"Siap Pak, nama saya Hxxxx. Kami tidak tahu harus mengadu ke mana. Kami mendengar Bapak sangat berani menyuarakan kebenaran, apalagi ketika duduk mewakili rakyat Siantar. Kami melihat kasus ini akan dikondisikan agar teman kami benar-benar bersalah, padahal menurut kami merekalah sumber dari masalahnya.
Kami hanya butuh keadilan dan bukan mencari pembenaran. Teman kami dikuburkan di pemakaman Mr X karena keluarganya tidak mengetahui keberadaannya. Tolonglah, Pak, karena keadilan harus ditegakkan. Yang meninggal adalah manusia, bukan binatang.
Semoga Tuhan melindungi Bapak serta memberikan kesehatan dan keselamatan untuk keluarga. Amin," tulis pengirim pesan tersebut.
Pengirim pesan juga meminta agar kasus tersebut terus dikawal dan diusut tuntas demi keadilan.
"Mohon untuk mengawal terus kasus ini dan harus diusut tuntas demi keadilan kemanusiaan yang berbangsa dan bernegara, karena telah menghilangkan nyawa. Jika perlu, kasus ini sampai kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kami juga memohon kepada seluruh pimpinan media dan Ketua DPRD Kota Pematangsiantar untuk melakukan rapat dengar pendapat dengan Kapolres Pematangsiantar," tulisnya.
Dalam pesan yang diterima redaksi, pengirim juga menyampaikan sejumlah klaim mengenai kronologi kejadian dan dugaan keterlibatan beberapa pihak. Disebutkan bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap dua orang yang ditangkap diduga direkayasa agar tidak ada keterlibatan Ketua salah satu OKP di Pematangsiantar yang berinisial RS.
Pengirim pesan memaparkan bahwa permasalahan bermula dari pembuatan tato adik RS, yakni WS yang disebut bertugas di PD Pasar Horas Jaya. Menurut pengirim, pada awalnya telah terjadi kesepakatan harga pembuatan tato. Namun, setelah tato selesai dikerjakan, WS disebut ingkar janji sehingga memicu keributan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.