Situasi inilah yang membuat pernyataan keterbukaan terhadap bantuan asing dibaca banyak pihak sebagai pengakuan tidak langsung atas besarnya skala krisis.
Prabowo sendiri mengakui bahwa menjadi pemimpin di tengah bencana berarti harus siap menerima kritik, bahkan hujatan.
Ia menyebut kritik sebagai bagian dari koreksi, meski tidak semuanya benar.
Bagi Presiden, fokus utama saat ini adalah memastikan layanan dasar—sekolah, puskesmas, dan rumah sakit—dapat kembali berfungsi secepat mungkin.
Secara nasional, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan wilayah Sumatera lainnya telah menelan lebih dari seribu korban jiwa.
Angka tersebut menjadikan krisis ini sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menempatkan pemerintah di bawah sorotan tajam publik.
Dalam konteks ini, membuka pintu bantuan asing bukan soal “menyerah” dalam arti politik, melainkan respons realistis terhadap krisis kemanusiaan yang melampaui kapasitas normal penanganan.
Pemerintah kini dituntut bukan hanya menunjukkan kehadiran, tetapi memastikan bahwa setiap bantuan—dari dalam maupun luar negeri—benar-benar sampai ke tangan para korban. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.