MENU
Rumah Bolon Sibandang, Salah Satu Warisan Budaya Batak dari Abad ke-18
WA FB
Regional

Rumah Bolon Sibandang, Salah Satu Warisan Budaya Batak dari Abad ke-18

G Editor : Gunawan Purba | 17 May 2026 | 14:28 WIB
Rumah Bolon Sibandang, Salah Satu Warisan Budaya Batak dari Abad ke-18
Rumah Bolon di Pulau Sibandang, Muara, Taput.

Taput, Sinata.id - Di tepian Danau Toba, tepatnya di Pulau Sibandang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, berdiri sebuah rumah adat tua yang masih kokoh bertahan di tengah perubahan zaman.

Rumah itu dikenal sebagai Rumah Bolon, salah satu warisan budaya Batak Toba yang hingga kini tetap dijaga keberadaannya.

Dari kejauhan, bangunan tersebut tampak menonjol dengan bentuk atap khas rumah adat Batak yang menjulang tinggi. Tiang-tiang kayu berukuran besar menopang bangunan yang diyakini telah berdiri sejak abad ke-18 atau sekitar tahun 1700-an.

Bagi masyarakat setempat, Rumah Bolon bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Rumah ini menjadi simbol kehormatan keluarga, penanda sejarah, sekaligus bagian dari perjalanan panjang keturunan raja-raja di Pulau Sibandang.

Sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun menyebutkan rumah adat itu pertama kali dibangun oleh Oppung Raja Sortauluan Rajagukguk. Kepemilikan rumah kemudian diteruskan kepada Oppung Raja Pardopur Rajagukguk dan diwariskan lagi kepada putra sulungnya, Oppung Raja Hunsa Rajagukguk, yang dikenal sebagai Raja Ihutan di Pulau Pardopur atau Pulau Sibandang.

Hingga kini, Rumah Bolon masih dirawat oleh keturunan keluarga besar Rajagukguk sebagai rumah parsaktian atau rumah kehormatan keluarga.

Rumah Bolon di Sibandang juga dikenal sebagai rumah adat Batak Toba pertama yang berdiri di kawasan pulau tersebut. Salah satu keunikannya terletak pada teknik konstruksi tradisional yang tidak menggunakan paku. Seluruh bagian bangunan disambungkan memakai pasak kayu dan ikatan rotan, memperlihatkan kemampuan arsitektur masyarakat Batak pada masa lampau.

Meski telah melewati usia ratusan tahun dan beberapa kali renovasi, bentuk aslinya tetap dipertahankan. Kayu-kayu besar yang menjadi penopang bangunan masih terlihat kokoh.

Pada bagian depan rumah, ukiran gorga berwarna merah, hitam, dan putih menghiasi dinding bangunan. Warna-warna tersebut memiliki makna filosofi dalam budaya Batak Toba, yakni melambangkan kekuatan, kesucian, dan keberanian.

Dua ornamen singa-singa juga tampak terpahat di bagian depan rumah. Dalam tradisi Batak, ornamen itu dipercaya sebagai simbol perlindungan dan kekuatan bagi penghuni rumah.

Selain dikenal karena nilai sejarah dan arsitekturnya, Rumah Bolon juga menyimpan kisah budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Pulau Sibandang.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.