MENU
Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam
WA FB
Kolom

Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam

G Editor : Gunawan Purba | 24 Apr 2026 | 08:19 WIB
Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam
Maryam Sarinah MAg

Oleh: Maryam Sarinah, MAg Dosen STAI Samora

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan manusia memerlukan interaksi dengan sesama dan lingkungan sosialnya. Setiap individu memiliki keunikan dan karakter tersendiri, sehingga kebutuhan, tujuan, dan kepentingan mereka bervariasi.

Dalam hubungan sosial, perbedaan kepentingan sering kali dapat menyebabkan konflik antar manusia karena masing-masing pihak cenderung mengutamakan kebutuhan dan kepentingannya sendiri tanpa ingin mengalah.

Dalam interaksi dengan orang lain, seringkali seseorang melakukan kesalahan atau mengalami perlakuan yang merugikan. Namun tidak semua orang benar-benar mampu atau ingin melupakan dan memaafkan pelanggaran orang lain.

Karena sikap memaafkan melibatkan emosi manusia yang dinamis dan sangat responsif terhadap rangsangan dari luar, maka hal ini menuntut kerja keras, tekad, dan pelatihan mental. Meski merupakan kebiasaan dalam hubungan antar manusia, memaafkan satu sama lain terkadang hanya menjadi rutinitas tanpa adanya ketulusan yang tulus.

Spiritualitas dalam Islam bukan hanya bermakna hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya melalui ibadah ritual, tetapi juga termanifestasi dalam sikap batin seperti kerendahan hati, kesabaran, dan kemampuan untuk memaafkan.

Sikap memaafkan dalam hal ini menjadi salah satu bentuk paling tinggi dari ekspresi spiritual karena menunjukkan keluhuran jiwa yang tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu amarah, tetapi oleh kesadaran ilahiah.

Secara bahasa kata al-‘afwu memiliki dua makna, yakni meninggalkan sesuatu dan meminta sesuatu. Kata al-‘afwu yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah (memaafkan).

Kata al-'afwu juga dapat diinterpretasikan sebagai sikap lapang dada, yaitu ketika seseorang tidak membalas tindakan buruk orang lain dan bahkan mendoakan kebaikan bagi mereka. Namun, penting untuk dicatat bahwa konsep al-'afwu ini tidak selalu berlaku dalam setiap situasi dan setiap waktu.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma'in berkata, telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa memaafkan kesalahan orang lain maka Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat." (Hadis Riwayat Ahmad Nomor 7122).

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.