MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam
WA FB
Kolom

Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam

G Editor : Gunawan Purba | 24 Apr 2026 | 08:19 WIB
Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam
Maryam Sarinah MAg

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah dan Ibnu Hujr, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far, dari al- 'Alaa', dari Bapaknya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah seorang hamba yang memaafkan kesalahan (kepada saudaranya), melainkan Allah akan tambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seseorang yang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”.

5 Seni Memaafkan Tanpa Menyimpan Dendam:

1. Menyadari Keutamaan Al-‘Afwu

Memahami bahwa memaafkan adalah perintah Allah dan karakter penduduk surga. Seseorang mulai menyadari bahwa menahan amarah hanya akan mengotori hati.

a. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

b. Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 40 : “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang zalim”.

2. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Tazkiyatun Nafs adalah jalan menuju ketakwaan dan kebahagiaan sejati. Beliau berkata:

“Tazkiyatun Nafs tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal: pertama, meninggalkan semua keburukan yang merusak hati, dan kedua, mengisi hati dengan kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala”.

3. Husnudzan dan I’tizar (Mencari Udzur)

Husnudzan berasal dari bahasa Arab namun kini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, dengan arti prasangka baik. Tahap ini menuntut kita berprasangka baik bahwa Setiap individu pasti pernah melakukan kesalahan dalam kehidupannya.

Kesalahan orang lain juga bisa dijadikan cermin untuk bercermin pada diri sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

4. Al-Ihsan (Berbuat Baik Pada yang Menyakiti).

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 199: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.