Oleh: Akbar Endra (Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas)
Jakarta, Sinata.id - Sebagian besar pejabat negara membangun jejaring internasional melalui ruang diplomasi resmi dan forum-forum pemerintahan. Namun, tidak demikian Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memilih jalur berbeda.
Sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sekaligus ilmuwan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia akademik, Taruna menjadikan universitas-universitas elite dunia sebagai panggung diplomasi Indonesia. Bukan untuk berbicara politik, melainkan tentang masa depan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan regulasi farmasi global.
Dalam rentang 2024 hingga 2026, jejak akademiknya membentang dari Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura hingga Australia. Sebuah safari ilmiah yang memperlihatkan bagaimana Indonesia mulai dipandang bukan hanya sebagai pasar farmasi besar, melainkan mitra intelektual yang ikut menentukan arah perkembangan kesehatan dunia.
Diawali dari Boston
Perjalanan itu dimulai dari Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Di kota yang menjadi salah satu pusat inovasi medis dunia tersebut, Taruna berdiri di mimbar Harvard Medical School dan Schepens Eye Research Institute.
Di hadapan para peneliti, profesor, dan ilmuwan kelas dunia, ia tidak berbicara mengenai birokrasi pemerintahan. Yang dibahas adalah masa depan terapi berbasis sel dan genetik atau Cell and Gene Therapy (CGT), sebuah teknologi yang diyakini mampu mengubah wajah pengobatan modern.
Taruna menguraikan peluang pemanfaatan terapi genetik dalam menghadapi glioblastoma, salah satu kanker otak paling agresif dan mematikan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dunia kedokteran.
Ia juga membahas perkembangan platform vaksin mRNA serta tantangan global dalam penanganan Guillain-Barré Syndrome (GBS), penyakit saraf langka yang menjadi perhatian komunitas medis internasional.
Pesan yang dibawa dari Boston sangat jelas. Indonesia tidak lagi berada di kursi penonton perkembangan sains dunia. Indonesia mulai ikut berbicara dan berkontribusi dalam percakapan global mengenai masa depan kesehatan manusia.
Menyatukan Regulasi dan Inovasi Global
Dari Amerika Serikat, langkah Taruna berlanjut ke Beijing. Di Tsinghua University, kampus terbaik Tiongkok yang dikenal sebagai pusat lahirnya berbagai inovasi teknologi mutakhir, Taruna mengangkat isu yang semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan industri farmasi global: harmonisasi regulasi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.