Jakarta, Sinata.id – Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 mengungkap adanya praktik kecurangan pada hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT), Selasa (21/4/2026).
Ketua Umum SNPMB 2026, Eduart Wolok, menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengawasan di berbagai lokasi ujian, ditemukan dua modus utama kecurangan, yakni praktik perjokian dan penggunaan alat bantu ilegal.
“Sejauh ini terdapat dua skema kecurangan yang sudah ditemukan, yaitu perjokian dan penggunaan alat bantu,” ujar Eduart.
Temuan ini menjadi perhatian serius panitia, mengingat sistem pengawasan UTBK-SNBT telah diperketat secara nasional. Panitia menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas, mulai dari diskualifikasi peserta, pencoretan dari seluruh jalur seleksi perguruan tinggi negeri, hingga kemungkinan sanksi hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
UTBK-SNBT 2026 dilaksanakan selama 10 hari, mulai 21 hingga 30 April 2026, dengan jumlah peserta mencapai 871.496 orang di seluruh Indonesia. Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 25 Mei 2026.
Temuan Kecurangan di Sejumlah Kampus
Di tingkat perguruan tinggi, sejumlah kampus melaporkan adanya indikasi kecurangan dengan pola yang beragam.
Di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), panitia menemukan dugaan perjokian yang melibatkan pemalsuan dokumen identitas dan ijazah. Meski demikian, peserta tetap diperbolehkan menyelesaikan ujian sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Wakil Rektor I Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan risiko sejak awal, terutama pada program studi dengan tingkat persaingan tinggi seperti kedokteran.
“Kami sudah memetakan potensi kecurangan sejak awal. Pengawasan diperketat dan SOP dijalankan secara rinci,” ujarnya.
Hasil verifikasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian data antara dokumen resmi dan identitas peserta, termasuk perbedaan foto. Kasus tersebut kemudian dikoordinasikan dengan panitia pusat SNPMB dan aparat kepolisian.
Temuan serupa juga dilaporkan di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) dan Universitas Airlangga (Unair). Dugaan perjokian terdeteksi melalui ketidaksesuaian identitas peserta, meskipun foto terlihat mirip dengan data resmi.
Staf Humas UPNVJT, Nizwan Amin, menyebutkan bahwa temuan tersebut telah dicatat dalam berita acara dan dilaporkan ke panitia pusat untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, pihak Unair menyatakan bahwa peserta yang terindikasi tidak hadir di lokasi ujian, meskipun terdapat kesamaan data dengan peserta tahun sebelumnya yang masih ditelusuri.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.