Ia menyebut bangsa Batak telah memiliki aksara, tradisi literasi, sistem religi, dan nilai budaya yang kuat sehingga mampu menerima serta menyesuaikan ajaran baru secara kritis dan adaptif.
Menurutnya, perkembangan peradaban di Tanah Batak merupakan hasil perjumpaan antara Injil dan kesiapan budaya masyarakat Batak sendiri.
[caption id="attachment_46263" align="alignnone" width="750"] Para misionaris di Tanah Batak sekitar tahun 1900. Nommensen keempat dari kanan baris depan. (istimewa)[/caption]
Peran Tokoh Lokal dan Guru Jemaat
Robin menilai keberhasilan penyebaran Injil tidak terlepas dari kontribusi guru jemaat, sintua, tokoh adat, dan pelayan gereja lokal.
Mereka disebut menjadi penghubung penting dalam menerjemahkan ajaran Kristus ke dalam bahasa dan budaya Batak.
Ia juga mengingatkan agar sejarah gereja tidak hanya berfokus pada figur asing, melainkan turut menonjolkan kontribusi masyarakat Batak dalam membangun gerejanya sendiri.
Koreksi Paradigma Teologis
Robin menilai publikasi yang terlalu menonjolkan satu tokoh misionaris berpotensi menimbulkan pengultusan individu.
Menurutnya, penulisan ulang sejarah harus menempatkan Kristus sebagai pusat gereja dan Roh Kudus sebagai penggerak utama perjalanan sejarah gereja.
Merayakan Kemandirian HKBP
Ia juga menyoroti sejarah kemandirian HKBP sebagai gereja lokal di Nusantara.
Menurut Robin, HKBP telah mampu berdiri mandiri secara yuridis sejak 1930 dan secara faktual pada 1940, sebagai bagian dari perjalanan panjang gereja Batak melepaskan diri dari dominasi zending Eropa.
Surat Ditembuskan ke Berbagai Kalangan
Selain ditujukan kepada Ephorus HKBP, surat terbuka tersebut juga ditembuskan kepada para pendeta, pelayan gereja, majelis jemaat, cendekiawan HKBP, gereja-gereja Batak lainnya, hingga insan pers dan media.
Ketua Dewan Pembina DPP Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI) itu berharap pembahasan sejarah misionaris dapat dilakukan secara terbuka, akademis, dan independen.
Usulan Substansi Penulisan Ulang
Dalam surat tersebut, Robin mengusulkan tiga poin utama terkait substansi penulisan ulang sejarah misionaris di Tanah Batak.
Pertama, penggunaan metodologi induktif yang mengutamakan dokumen primer dan manuskrip objektif.
Kedua, penguatan narasi inkulturasi dan jati diri Batak, yakni Injil hadir untuk melengkapi dan menguduskan nilai luhur budaya Batak seperti Dalihan Na Tolu.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.