Analisis kalimat “Mendapat Ridho (Kasih dan Sayang) Allah”
Mendapat ridho Allah berarti menerima apapun kehendak dan ketentuan Alllah dengan bahagia, karena semua kehendak dan ketentuan Allah adalah manifestasi dari kasih sayang Nya. Tujuan hidup manusia sebenarnya adalah mencari ridho Allah. Kalau Allah sudah ridho terhadap apa yang kita lakukan pasti hasilnya baik.
Bahkan dalam ilmu tasawuf selalu diajarkan, yang kita cari dalam ibadah bukanlah surga atau karena takut neraka, tetapi ridho Allah SWT. Oleh karena itu, tak heran bila ada yang menyatakan kalaupun pada akhirnya masuk neraka, itu tidak akan menjadi masalah karena itu memang ridho Allah.
Mengutip uraian Gus Baha dalam pengajiannya mengingatkan bahwa ridho Allah bisa dicapai dengan perbuatan yang kita lakukan sehari hari. Apa contohnya ? Makan dan minum.
Allah meridhoi hamba Nya yang ketika makan selalu memuji Allah. Hamba yang ketika minum memuji Allah dalam tiap tegukannya. Kalau Allah sudah ridho, apapun yang dilakukan selalu direstui.
Beliau menambahkan, bahwa “Rasulullah sudah meberi panduan di mana untuk menggapai ridho Allah itu banyak hal yang bersifat keseharian. Contohnya, jika kamu punya uang dan istrimu bisa makan dari uang tersebut, Allah meridhoinya dan itu juga dianggap Ibadah.
Penjelasan Gus Baha tentang konsep ridho Allah sangat relevan dengan apa yang dirasakan dan difahami penulis tentang mendapat ridho Allah.
Suluk
Kata Suluk berarti “menjalani”, yakni praktek spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah. Suluk merupakan kegiatan lanjutan dari tarekat. Sehingga antara tarekat dan suluk tidak bisa dipisahkan.
Kalau diistilahkan, adanya jalan bila tidak dijalani maka tidak akan sampai ke tujuan. Inilah tarekat dan suluk, adanya jalan maka harus dijalani agar sampai ke tujuan.
Terkait dengan suluk, pelaksanaannya sangat tertib, rapi dan teratur. Hal ini terlihat dari adanya adab adab pra pelaksanaan, saat pelaksanaan dan paska pelaksanaan. Berikut ini adab adab terkait suluk.
Di dalam buku Metode Alternatif Thariqat Naqsyabandiyah yang ditulis oleh Tuan Guru Buyah DR. Syekh Salman Da’im jilid IV hal 25-27 menjelaskan adab tentang suluk terbagi 3, yaitu : Adab sebelum suluk terdiri dari 7 hal, yakni : Hendaklah cari guru yang mursyid, artinya guru yang telah terkenal kesana kemari. Yaitu guru yang telah masyhur ilmunya dan tidak dicela orang pengajarannya dan guru itu mendapat ilmu dari guru tertentu hingga silsilahnya sampai kepada Rasulullah.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.