MENU
Banner SINATA.ID
Tarekat dan Suluk Ilallah
WA FB
Kolom

Tarekat dan Suluk Ilallah

G Editor : Gunawan Purba | 01 May 2026 | 09:42 WIB
Tarekat dan Suluk Ilallah
Tuan Guru Bah Yoga, Erayadi MPd

Guru tersebut tidak pernah durhaka kepada gurunya, dan sangat tertib adabnya serta luas faham dan ilmunya. Guru tersebut tidak kasih akan dunia dan pekerjaan yang harus pada syara’ Hendaklah diselesaikan urusan pekerjaan dunia maupun ahirat. Hendaklah membawa bekal yang halal lagi suci.

Hendaklah dii’tikadkan suluk itu pergi meminta izin kepada ibu, ayah, sanak keluarga, tetangga, jiran dan lain-lain.

Kita menyadari bahwa pergi suluk itu dengan membawa dosa yang tiada terhingga banyaknya, serta taksir yang tiada terhingga, sembari mengharapkan rahmat dan magfiroh Allah yang maha Pengampun lagi maha Penyayang hamba Nya yang bertaubat.

Apabila bertemu dengan gurunya, hendaklah dia menyerahkan dirinya kepada tuan Guru seraya berkata “Minta ijin hamba tuan, hamba datang dari alam jahil dan lautan dosa, hamba pulangkan diri hamba kepada tuan, kiranya hamba diberi teladan bimbingan untuk segera keluar dari alam jahil lautan dosa, serta masukkan hamba ke alam yang terang benderang dengan berkat bimbingan dan bela tuan hamba beserta Allah dan Rasul Nya dan para masyaikh kiram.

Adab di dalam suluk ada 21 hal, yakni ; Hendaklah mensucikan niat daripada segala karena dan kehendak walau hendak menjadi khalifah sekalipun, karena sesuatu itu dipandang dari niatnya, maka akan baik pula hasilnya. Tetapi hendaklah niat suluk itu semata mata beramal ibadah kepada Allah. Mutlak berhampir diri kepada Allah guna mendapat ridho Allah.

Hendaklah bertaubat daripada maksiat zahir maupun batin. Hendaknya berniat masuk suluk 10 hari atau 20 hari dan selanjutnya.

Hendaknya mengurangi makan dan minum serta berkata kata. Dilarang makan daging atau ikan serta semua yang berbangsa bernyawa. Dilarang berkata kata hanya bagi sesama suluk 14 kalimat dan kepada yang tidak suluk 7 kalimat.

Tidur hendaklah melentur seperti keadaan di dalam perut ibu, dan sebenarnya orang yang suluk itu di dalam perut gurunya.

Hendaknya berkekalan wudhu’ dan berkekalan shalat jamaa’ah serta berkekalan menungggu waktu shalat. Hendaklah kita yang dahulu duduk di tempat khatam dan tawajjuh, dan terlebih baiknya kita pula yang kemudian bangkit dari pada sekalian jama’ah.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.